09 December 2005

Saat Itu Adalah Pasti

Bismillahirrahmanirrahim

" Maha Suci Allah! Ditangan Nya kerajaan dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu; yang menjadikan mati dan hidup; untuk Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalan dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."
[Al Mulk, 67:1-2]

Alhamdulillah. Masih bernafas. Masih meneruskan kehidupan di pengakhiran 2005, satu tahun yang memberikan seribu satu kenangan kepada diri. Bermula dari pembukaan tirai tahun sehingga kini, mengatur langkah-langkah seharian di bulan terakhir. Dan setiap hari, mengejar waktu, menyempurnakan setiap urusan, mensyukuri setiap nikmat yang masih dikekalkan hingga saat bernyawa ini.

Dan khabar semalam menambah lagi kematangan, pahit manis memori kehidupan. Genap 9 bulan nenek meninggalkan kami, ibunya, moyang kesayangan kita, menutup mata kembali mengadap Rabbul Akbar. Setelah hampir 3 bulan lemah tidak mampu bangkit sendiri dan semingguan tenat di pembaringan, moyang pergi meninggalkan kami, anak-anak, cucu dan kita, cicitnya.

Sehingga kini terasa masih terngiang-ngiang di mata gelak tawa ceria si moyang. Masih tergambar jelas wajah tua yang sejuk tenang mata memandang. Masih segar di ingatan setiap nasihat dan bicara si nenek tua. Masih terasa sentuhan lembut bibirnya di pipi kita saat keberangkatan pulang ke Tokyo akhir Mac lalu. Dan tidak pernah terlintas, itu adalah ciuman terakhir darinya untuk kita.

Dan hari ini khabar yang sama menyapa lagi. Kekanda masih muda. Anaknya juga baru seusia setahun. Terkejut. Serasa baru semalam bertemu kekanda mesra baik bicara, berziarah tanya khabar lewat pantang si isteri. Namun hari ini, mereka telah pergi. Benarlah maut itu tidak mengenal usia, tua atau muda.

" Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cubaan. Dan hanya kepada Kami lah kamu semua akan dikembalikan. "
[Al Anbiya, 21:35]

Mati. Suatu yang pasti. Kullu nafsin zaa`ikotul maut. Sepertimana janji-Nya pada umat yang bernyawa, kematian itu pasti akan menjemput juga. Susah senang hidup di dunia, semuanya ujian, semuanya sementara. Tiada tempat keberangkatan yang paling mulia, melainkan semuanya bakal mengadap Rabbul Izzati, Penguasa langit dan bumi.

Hidup. Dunia teduhan sementara. Langkah-langkah permusafiran. Setiap kali bangkit masih bernyawa, bekerja menyempurnakan tugas dan amanah sebagai khalifah. Selagi mana bernama manusia, mengukir amal buat dibawa sebagai bekalan hidup di dunia terabadi. Selagi mana masih menghirup udara di atas muka bumi Allah Taala ini, carilah peringatan, carilah pembekalan.

Berbekallah kamu; Dan sebaik-baik bekal itu adalah ketaqwaan.

" Katakanlah! Kesenangan dunia hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa. "
[An-Nisa, 4:77]

Buat yang telah pergi, urusan mereka telah selesai di atas muka bumi ini. Hanya doa penghubung, pengirim ingatan tanda cinta. Buat yang masih bernyawa, sempurnakanlah amanah dan tugas kita. Kerja itu lebih banyak dari waktu yang kita ada. Dan apabila tiba saatnya, kita semua akan dipanggil mengadap Yang Maha Memiliki. Dan pada saat itu, tiada gunanya menangis, menyesal lagi.

Hidup. Mati. Ianya hanya datang sekali.

Ya Rabbi, sampaikanlah salam rinduku untuk mereka...