05 September 2009

Calon Ar Rayyan [2]

Bismillahirrahmanirrahim
AlhamdulilLah walLahuAkbar.Dia lebih tenang dalam mengharungi Ramadhan pada tahun ini. Ada energi yang dipinjamkan dari sisi Tuhan untuknya bangun menghiasi malam-malam Ramadhani. Ada azam yang mengiringi untuk dia menelusuri kalimah-kalimah di dalam Al Kitab. Hanya kekadang ketenangan itu terusik, tercalar. Oh, sesungguhnya dia perlu lebih menata qalbu untuk menggapai hakikat Ramadhan sepertimana disunnahkan oleh Rasul SAW.

“Bukanlah berpuasa itu sekadar menahan dari makan dan minum. Sesungguhnya puasa itu juga adalah menahan diri dari perkara yang sia-sia dan kotor. Jika kamu dimaki oleh seseorang atau diperbodohkannya, maka berkatalah: Sesungguhnya aku berpuasa”
[riwayat Ibn Khuzaimah dan al-Hakim / Sahih al-Targhib 1068]

Ada provokasi-provokasi yang kerap mengganggu ketenangan hatinya. Ada bisikan-bisikan yang menimbulkan amarah dan kecewa dalam dadanya. Ada bicara yang mengguris tangkai hati, menyekat mindanya untuk berfikir lebih tenang dan lebih rasional. Oh, sesungguhnya dia perlu lebih berusaha mendidik hatinya, untuk memahamkan hakikat puasa atas dirinya. Ya, walaupun dia merasakan telah banyak bersabar. Namun, dengan sedikit bicara, kesabarannya terus tercalar. Itu bukti dia sesungguhnya masih belum mampu bersabar lagi.

Dia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya kerana aku (ALLAH), maka puasa adalah khas untukKU, dan aku akan memberikan ganjaran untuknya.
[HR Al-Bukhari]

Ramadhan adalah madrasah terbaik untuk membina as-sabr dalam diri. Sunnah Rasulnya mengajarkan begitu. Tuhannya menjanjikan begitu. Madrasah puasa ini mendidik nafsu-nafsu ammarah itu untuk kembali tunduk mengikuti tariqah Tuhannya. Kedegilan nafsu takkan mampu ditawan, melainkan mujahadah (kerja keras) yang berterusan. Dan akal yang bijaksana untuk menilai baik buruk sesuatu perbuatan. Manusia tidak lemah sebenarnya. Hanya apabila akal dikuasai nafsu, maka hilanglah segala pertimbangan diri. Dan di sana, ada ibadah puasa yang boleh membantu mentarbiyah hati, akal dan nafsu untuk tunduk patuh pada Khaliqnya.

Nampaknya dia perlu berusaha lebih keras untuk menggapai end-result seperti as sabr dan at taqwa. Perlu lebih banyak mengangkat tangan berbicara dengan Robbul Ikram, mengharapkan Ramadhan ini lebih sempurna. Perlu lebih memperbanyakkan sujud, menyerah keresahan ini, moga bertemu ketenangan yang begitu diperlukan. Perlu bertaubat. Perlu lebih mujahadah dan isytiqamah.

Tuhan. Bantu diri ini. Untuk meraih redhoMu.